Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

TUYUL DIGITAL

Saya sebenarnya mulai membuat aplikasi sudah lama sekali, sejak belum tren android. Handphone saat itu masih “tit-tut” berbasis Java, saya sudah membuat aplikasi trigonometri di handphone, menggunakan ownmidlet. Pengetahuan tersebut saya dapatkan di PPPPTK Matematika tahun 2011, pelatihan Mathematics Mobile Learning. Aplikasi itu pernah saya running ke siswa dan kami belajar bersama. Zaman itu sedikit sekali siswa yang memiliki HP terlebih aplikasi tersebut tidak memerlukan pulsa dan tidak pula jaringan internet.

ERA DIGITAL 2021

Aplikasi pembelajaran, seperti juga kalkulator termasuk apapun aplikasi pembelajaran sekarang bahkan yang dirilis oleh pemerintah sekalipun seperti Rumah Belajar, belajar.id juga yang digerakkan oleh pihak swasta seperti Ruang Guru, Quipper, Zenius, Microsoft Teams dan sebagainya bukanlah alat mencerdaskan siswa. Keliru jika kita berharap “mereka” bisa membuat siswa cerdas. Aplikasi hanya alat bantu, memediasi guru berinteraksi dengan siswa. Membantu guru membuat siswa memahami konsep dan konten pembelajarannya. Siswa cerdas karena mau belajar, rumusan itu berlaku dari dulu hingga saya pensiun nanti. Kondisi apapun, siswa jika ingin cerdas ya belajar, kali-kali aja jika pakai aplikasi membantu mereka memahami lebih baik. 

Intinya adalah inovasi apapun yang dicipta oleh guru dalam dunia pendidikan ditujukan untuk membantu, memediasi. Mari kita bersandar secara ilmiah pada hasil-hasil penelitian yang valid, cerdasnya siswa berawal dari kemauan dan kemampuan guru berinteraksi. Teknologi hadir tidak bisa dihindari, dalam seluruh aspek kehidupan. Bahkan jika anda membaca status saya ini, sesungguhnya anda sedang menggunakan teknologi, sebuah aplikasi bernama facebook.

Spesifik kita melihat bagaimana maraknya aplikasi di dunia maya mendatangkan perubahan peradaban manusia saat ini, tidak bisa dihindari. Dunia kedokteran misalnya, aplikasi android yang dapat diunduh di playstore begitu banyaknya, membuat pengguna hape bisa saja keblinger, bisa pula berwawasan. Banyak pasien terbantu tanpa harus mendatangi langsung dokternya, tanpa bayar biaya konsultasi, bisa dapat sugesti pengobatan berserta resep medis. Tentu jika kondisi kronis, hal ini tidak berlaku.

Syahdan Ustadz Das’ad Latief diminta oleh Ustadz Abdul Somad untuk memanfaatkan media sosial melakukan ceramah melalui youtube dan instagram. Mereka memandang kebermanfaatan, jika ceramah langsung terbatas penontonnya. Beberapa tokoh agama pun melawan terorisme menghadirkan Islam yang plural dan moderat membuat aplikasi “cari ustadz id”. Konsultasi agama pun tanpa perlu sungkan jika enggan hadir di Majelis Ta’lim bisa menggunakan aplikasi ini, tanpa malu pula bertanya masalah sensitif di depan khalayak.

Media Informasi pun sekarang lebih banyak bergerak di bidang online ketimbang koran cetak seperti dahulu. Oplah koran menurun sejak banyak aplikasi penyedia berita secara online yang lebih cepat dan akurat tanpa menunggu cetak turun besok hari. Aspek kehidupan manusia sudah beralih pada aplikasi-aplikasi. Lalu apakah karena hampir semua bisa diakses gratis, penyedia tidak memperoleh uang ?.  Tentu saja ketika mereka beralih mereka akan memperoleh pundi yang lain dan lebih besar sebenarnya dari yang pembayaran face by face. Dalam dunia maya kita mengenal PPA (pay per action), you like it, you hit it, you install it, you comment it, you share it, you watch it, semua uang masuk bagi pembuat / penyedia aplikasi, JIKA DIMONETASI.

Uang dari internet sangat ghaib, bukan hanya seperti dukun yang mengusahakan kekayaan bagi pasiennya, namun lebih parah dari pemelihara tuyul. Hampir tidak pernah ada standar baku pembayaran, namun uang bisa masuk ke rekening tanpa transaksi langsung, masuk aja gitu. Sepertinya tuyul-tuyul digital bekerja sangat efektif, memantau pemain-pemain online dengan sangat jeli. Kadang mereka bikin aturan sesuka mereka, namun tidak berhenti pula pencari pundi bergerak secara kreatif agar tetap dilirik tuyul.

Tapi apakah semua niatnya untuk memikat tuyul ?. Tentu saja tidak. Namun jika bisa kaya, kenapa tidak mengupayakan, toh halal dan haram bergerak mulai dari niat. Saya ingat pesan Ust. Das’ad, menutup konten buruk di internet tidak menyelesaikan masalah, jika kau punya kebaikan dan bisa melawan keburukan di dunia maya, maka bergegaslah buat konten-konten kebaikan memerangi keburukan.

Guru pun harus bergerak, membuat aplikasi, kreatif bekerja berinovasi membuat pendidikan lebih mudah diakses. Terlalu banyak konten prank dan hiburan yang tidak mendidik tidak dicounter oleh konten pembelajaran positif dari guru. Jika konten non edukatif bisa memperoleh uang, kenapa guru tidak boleh dapat uang dari PPA ? dari Mbah Google ?, selain menyajikan kebaikan juga bisa memperleh keuntungan finansial. Daripada menggerutu menunggu pencairan berbagai tunjangan, siapa tahu penghasilan tambahan ini bisa membantu kehidupan guru yang memang gajinya tidak seimbang dengan kebutuhan hidup.

Saya sendiri masih tetap ingin kreatif, membuat aplikasi yang membantu saya berinteraksi dengan siswa. Memanfaatkan sosial media seperti youtube dan facebook menyediakan konten edukasi. Tentu saya memonetasi kanal youtube saya, sudah 3 ribu subscriber dengan penghasilan hari ini sebesar 680 ribu rupiah sudah dua tahun, belum dapat dicairkan karena belum ambang minimal 1,3 juta rupiah. 

Saya punya hampir 150 video pembelajaran. Teman saya meledek, kok belum bisa sekaya Atta Halilintar, bikin prank teriak ashiiaap dapat uang banyak bisa gelar pesta mewah mengundang presiden. Teman saya menuduh saya tidak konsisten. Lah emang iya, bagi saya, konten di youtube hanya buat saya yang sering lupa, sehingga bikin tutorial dan nyimpan di youtube. Fokus saya bukan pada finansial, tapi jika kelak dapat uang, takkan pernah saya tolak.

Jangan lupakan tokoh yang kaya raya melalui aplikasi, beliau adalah Mendikbud Nadiem Makarim yang berhasil bermain hit google, mengeruk uang google adsense dengan  memanfaatkan coding google map. Gojek menjelma sebagai decacorn Indonesia dengan omset trilyunan per tahun

Kini saya ingin mengembangkan aplikasi-aplikasi yang dapat membantu dunia pendidikan, mengajak beberapa teman-teman sebagai relawan. Di sisi lain, biarlah saya jadi “sales”, aplikasi yang bagus pasti saya promokan, meski saya tidak terlibat di dalamnya. Kekayaan pasti menghampiri saya, kaya pengetahuan dan kaya empati untuk senantiasa berbagi.

Matangkuli, 13 April 2021

Penulis : Khairuddin Budiman